Beberapa perempuan seringkali dijuluki atau dipanggil oleh laki-laki sebagai betina. Saya pun juga pernah menerima julukan betina di chat grup kelas, kelas yang mayoritas isinya laki-laki. Banyak ucapan-ucapan juga di berbagai media sosial yang memanggil perempuan sebagai betina sehingga membuat saya geram dan risih. Meskipun panggilan tersebut mungkin diniatkan untuk lelucon, tapi bagi saya hal itu tidak patut untuk diucapkan pada perempuan
Ravika Alvin Puspitasari- Konde.co
Bukannya Baper, tapi hal itu patut untuk diseriusi, karena betina menurut kamus besar bahasa Indonesia itu artinya perempuan tapi itu sebutan untuk binatang atau benda.
Saya mengamati banyak sekali pengguna media sosial, mereka laki-laki yang menyebut ‘apapun trendingnya, pasti ada foto betina’.
Padahal apapun yang dilakukan perempuan seperti meng-upload foto di media sosialnya itu adalah hak perempuan, tentu ini tidak merugikan siapaapun, tapi mengapa harus dilecehkan seperti itu?.
Jika itu mengganggu, mungkin mereka saja yang bermasalah dengan dirinya sendiri.
Kenapa harus memberi sebutan perempuan sebagai betina? Padahal jarang sekali bahkan tidak ada perempuan yang menjuluki laki-laki sebagai pejantan.
Seperti pertanyaan lain yaitu lelucon yang diberikan untuk perempuan ‘apa masih perawan?’ tentu jarang sekali orang mempermasalahkan laki-laki yang perjaka.
Penyebutan kata betina untuk seorang perempuan sama saja seperti melecehkan. Sebab dari julukan tersebut saya sering mendengar dari percakapan di geng laki-laki, perempuan diibaratkan seperti sapi perah dan kaum laki-laki sebagai pihak dominan.
Panggilan betina kepada perempuan juga sering diartikan sebagai hewan yang hanya memproduksi anak saja. Sama saja ini seperti memberi labelling terhadap perempuan hanya sebagai alat reproduksi, bahkan mengobyektifikasikan perempuan sebagai obyek seks.
Dari sini kita harus banyak memahami mengenai pengetahuan gender terutama menyoal bahasa-bahasa yang seksis. Bahasa seksis sering diartikan sebagai ungkapan yang memposisikan salah satu jenis kelamin pada tataran subordinasi. Jika bahasa seksis tidak tepat penggunaanya, maka ini tidak akan adil gender terhadap perempuan, sebab ini merepresentasikan posisi laki-laki lebih dominan.
Sikap ketidak adilan gender ini tentunya tidak lepas dari pengaruh bahasa dalam budaya patriarki yang terlanjur mengakar. Dari sini dapat diartikan bahwa bahasa merupakan akar fundamental penyebab ketidak adilan gender. Penggunaan bahasa yang seksis utamanya yang menimpa perempuan mengakibatkan ketimpangan atasnya terjadi tiada henti. Ini jelas bukan teori baru karena post-feminis memang menyebut bahwa akar opresi perempuan salah satunya dari bahasa yang maskulin.
Ironisnya, bahasa ini kemudian menjadi budaya. Jika terus diucapkan, ia akan menjadi budaya. Jika bahasanya melecehkan, maka budaya melecehkan yang berasal dari bahasa ini jadi makin banyak diucapkan, lalu dilanggengkan dan bisa jadi labelling
Label atas perempuan yang hanya dipandang sebagai agen reproduksi masih saja berkembang di zaman milenial seperti ini.
Mungkin memanggil betina itu mereka anggap bercanda, tetapi perilaku demikian jelas merugikan perempuan. Jika tidak diubah, maka akan makin banyak bahasa yang melecehkan perempuan
(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)
Ravika Alvin Puspitasari, kesibukan saat ini hanya kuliah daring dan mengikuti berbagai diskusi online. Selain itu jika kuliah masuk seperti biasanya saya aktif menulis di Lembaga Institute For Javanese Islam Research dan saya tertarik pula dengan isu-isu gender yang sedang berkembang saat ini
from KONDE - MEDIA FOR WOMEN AND MINORITY https://ift.tt/2UOiO8L Wanita Sehat

No comments:
Post a Comment