June 04, 2020

Tantangan Bagi Anak Perempuan Saat Menstruasi Kala Pandemi Covid-19

| June 04, 2020 |
Pandemi Covid-19 membuat anak perempuan semakin rentan karena kesulitan memenuhi kebutuhan kebersihan organ reproduksi mereka saat menstruasi.

*Tika Adriana-www.Konde.co

Baru-baru ini, Yayasan Plan Internasional Indonesia (Plan Indonesia) bersama SMERU Research Institute mengeluarkan sebuah riset mengenai “Manajemen Kebersihan Menstruasi di Tengah Pandemik Covid-19”. Dalam riset tersebut, mereka menemukan berbagai tantangan yang dihadapi oleh anak perempuan yang menstruasi di saat pandemi.

Masalah pertama yang menghantui anak perempuan di kala pandemi yakni akses informasi tentang menstruasi. Jika sebelum Covid-19 merajalela di Indonesia, anak perempuan lebih banyak mendapatkan informasi perihal kesehatan dan kebersihan reproduksi di sekolah, maka ketika sekolah-sekolah ditutup untuk mematuhi physical distancing, akses pengetahuan pun menjadi terbatas.

“Sekolah masih menjadi satu-satunya penyedia informasi yang dapat diandalkan untuk mendapatkan informasi tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM). Namun, tutupnya sekolah berarti hilangnya akses terhadap informasi terkait MKM,” ujar Juru Bicara Plan Indonesia, Silvia Devina, melalui rilis yang diterima Konde.co.

Di Indonesia, pembahasan ihwal menstruasi pada anak memang masih dianggap sebagai hal tabu. Ini terlihat dari hasil studi Plan Indonesia dan SMERU Research Institute yang menyimpulkan bahwa 45 persen orang tua murid laki-laki merasa tak perlu menjelaskan menstruasi kepada anaknya karena tak pantas. Sedangkan pada anak perempuan sendiri, 63 persen dari mereka tidak pernah mendapat penjelasan tentang menstruasi oleh orang tuanya.

Akibat buruknya pengetahuan tentang menstruasi, anak-anak perempuan menjadi tak menjaga kebersihan diri mereka, seperti jarang mengganti pembalut, tidak mencuci tangan dengan sabun saat membersihkan area kewanitaannya, dan membuang pembalut dengan cara yang keliru.

Salah satu penyebabnya yakni kesalahan informasi tentang menstruasi di masa lalu yang menjadi turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya, sehingga menimbulkan stigma bagi perempuan. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia. Stigma ini menjadikan perempuan mendapatkan diskriminasi di masyarakat dan merusak kesejahteraan perempuan.

“Jika Anda seorang gadis yang hanya dibesarkan oleh ayah Anda (orang tua tunggal), Anda mungkin akan malu untuk bertanya tentang menstruasi atau produk saniter,” ujar Claire Best, seorang relawan The Red Box Project NI, dalam sebuah wawancara di BBC.

Harga produk menstruasi yang mahal pun menjadi kendala sendiri bagi perempuan. Akibatnya, anak dari keluarga miskin pun tak berani bertanya perkara kebersihan organ reproduksi atau produk menstruasi yang baik. Masalah tersebut membuat mereka lebih rentan terhadap kekerasan, infeksi menular seksual, dan konsekuensi kesehatan serius yang terjadi saat menstruasi. Ketika pandemi Covid-19, bukan tak mungkin mereka akan semakin rentan.

Covid-19 membuat ruang gerak kita menjadi terbatas. Hal ini membuat proses distribusi barang menjadi terhambat dan akses perempuan untuk membeli produk saniter menstruasi menjadi lebih rumit. Rantai pasokan yang tak normal ini membuat harga beberapa produk kebutuhan hidup jadi melambung, termasuk produk saniter menstruasi, sehingga pengeluaran bulanan menjadi lebih tinggi.

Masalah lain yakni angka PHK yang tinggi di masa pandemi Covid-19 sehingga sangat mungkin akan lebih banyak anak perempuan yang kesulitan biaya untuk membeli produk menstruasi.


Akses Kebersihan Organ Reproduksi Semakin Jauh

Buruknya pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan remaja membuat mereka abai terhadap kebersihan area kewanitaan. Dalam studi yang dilakukan Plan Indonesia, mereka menemukan bahwa rata-rata anak perempuan yang sedang menstruasi hanya tiga kali mengganti pembalut dalam sehari. Padahal seharusnya kita segera mengganti pembalut ketika sudah penuh atau setidaknya tiga hingga empat jam sekali.

Tak sedikit pula anak remaja yang keliru dalam menjaga kebersihan area kewanitaannya. Selama ini, mereka hanya mencuci tangan dengan sabun setelah selesai membersihkan area kewanitaan, seharusnya mereka juga mencuci tangan dengan sabun sebelum membersihkan area vagina.

Selama masa pandemi Covid-19, perempuan menjadi semakin rentan terhadap gangguan kesehatan organ reproduksi akibat sulitnya akses terhadap air bersih.

“Plan Internasional melakukan survei daring kepada pekerja di bidang sanitasi dan kesehatan reproduksi dan anak-anak perempuan di 30 negara, 50 responden di antaranya dari Indonesia [...] Beberapa kekhawatiran yang kerap muncul mengenai Manajemen Kebersihan Menstruasi 75 persen mengatakan bahwa pandemi Covid-19 bisa meningkatkan risiko kesehatan bagi perempuan yang menstruasi karena sumber daya yang mereka butuhkan seperti air dialihkan untuk kebutuhan lain,” kata Silvia.

Krisis ini semakin nyata karena kerusakan lingkungan akibat pertambangan, manajemen pembuangan sampah yang buruk, limbah di wilayah industri, hingga maraknya betonisasi.


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Tika Adriana, jurnalis perempuan yang sedang berjuang. Saat ini managing editor Konde.co

from KONDE https://ift.tt/303ldji Wanita Sehat

No comments:

Post a Comment

Back to Top