August 14, 2020

Gamers Perempuan Mengalami Pelecehan Seksual Hampir Setiap Hari

| August 14, 2020 |

Icha dan Dinda menuturkan bahwa lingkungan gamers yang maskulin membuat para perempuan yang bekerja sebagai pemain gim kerap menerima pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender. Lingkungan itu membuat para pelaku menormalisasi komentar-komentar seksis dari para perempuan. 

*Tika Adriana- www.Konde.co

“Berapa nih [harganya]?”


“Bisa nih diajak”


“Hai Dinda, istriku, mau enggak nikah sama aku?”


“Kak, kamu sudah nikah belum? Kak mau enggak jadi pacar aku?


“Dinda, mahar kamu apa?”


Pernyataan-pernyataan tersebut merupakan contoh kekerasan seksual yang kerap dijumpai oleh Dinda Dc, Icha Annisa, dan pemain gim perempuan lainnya. Kekerasan itu tak hanya sekali-dua kali muncul, tapi nyaris setiap hari mereka jumpai.


“Hampir setiap hari aku live streaming dan selama satu tahun lebih ini aku live itu tidak pernah satu hari pun terlewat dari perlakuan seperti itu,” ungkap Dinda dalam Nongkrong Bareng Never Okay Project (Nobar NOP) #5: Pelecehan Seksual di Live Streaming Game yang diadakan pada 8 Agustus 2020.


Di dunia gim, pelecehan seksual terjadi di semua platform live streaming seperti Instagram, Facebook, dan lainnya. Icha mengatakan bahwa pelecehan itu muncul karena para pelaku ingin mendapatkan perhatian.


“Aku pernah tiba-tiba di-DM, dikasih foto kelamin laki-laki. Sesuatu yang seharusnya enggak kamu kasih liat, kenapa harus dikasih lihat. Tapi sekalipun kita mau mempermalukan mereka atau blow up kasusnya atau mau laporan, kita enggak bisa karena mereka akun privat, pakai nama lain. Akun palsu itu melindungi para pelaku, bukan melindungi korban,” ungkap Icha.


Icha dan Dinda menuturkan bahwa lingkungan gamers yang maskulin membuat para perempuan yang bekerja sebagai pemain gim kerap menerima pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender. Lingkungan itu membuat para pelaku menormalisasi komentar-komentar seksis dari para perempuan.


Bukan itu saja, lingkungan pemain gim yang maskulin itu juga kerap kali membuat perempuan dilihat sebagai objek, bukan sebagai perempuan yang bisa memainkan gim dengan kemampuan yang sama dengan laki-laki.


Pelaku pelecehan itu bukan cuma orang tak dikenal atau orang-orang yang muncul dengan akun anonim atau akun palsu, tapi juga dari lingkaran pertemanan gamers mereka.


“Pelecehan itu bukan cuma orang orang random, tapi teman-teman di sekitar kita, karena mereka memaklumi, jadi ya mereka masih suka bercanda,” ungkap Icha.


Rentang usia dari para pelaku kekerasan seksual dan gender di dunia siaran gim sangat beragam dari termuda di usia SD hingga pria usia dewasa.



Perempuan Turut Komentar Seksis


Normalisasi humor dan komentar seksis itu tak hanya dilakukan oleh laki-laki, tapi juga perempuan.


“Kalau perempuan biasanya mereka komentar lebih ke fisik seperti ‘lo jangan sok cantik deh, orang-orang juga mau mabar (main bareng) sama lo karena lo cantik’, ‘udahlah, lo ngurusin suami saja daripada main gim’,” kata Dinda menirukan komentar dari para penonton perempuan.


Dinda dan Icha sudah berkali-kali mengungkapkan kekesalannya saat mendapat perlakuan tak menyenangkan itu, sayangnya yang mereka dapat bukan dukungan, tapi cemoohan. Para pengikut dan penonton gim kebanyakan justru menganggap bahwa reaksi Dinda dan Icha hanya reaksi bawa perasaan. Padahal mereka sangat risih dengan ungkapan seksis tersebut.


Claudy Jacob dari Never Okay Project mengamini bahwa industri gim yang didominasi oleh laki-laki itu membuat kekerasan berbasis gender terus terjadi. Permasalahan utama yang kerap muncul dalam kekerasan berbasis gender di industri gim yakni pelaku bisa menggunakan anonim atau nama samaran.


“Ketika mendengar pelecehan seksual di siaran langsung gim, mungkin orang berpikir ‘kok bisa?’, karena masih banyak sekali perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bersembunyi di balik akun anonim yang membuat seseorang merasa direndahkan, dihina,” tutur Claudy.


Claudy menegaskan bahwa masalah ini muncul karena kurangnya kesadaran dan pemahaman dari para penikmat gim. Maka tak jarang, saat korban mengaku mereka justru mengalami serangan balik.


Padahal, untuk mewujudkan lingkungan kerja yang bebas kekerasan seksual, masing-masing orang harus sadar bahwa masalah ini tak akan pernah berhenti jika tak dimulai dari diri mereka sendiri.


(Foto/ilustrasi: Pixabay)

*Tika Adriana, jurnalis perempuan yang sedang berjuang. Saat ini managing editor Konde.co


from KONDE - MEDIA FOR WOMEN AND MINORITY https://ift.tt/2Y18Br3 Wanita Sehat

No comments:

Post a Comment

Back to Top