October 30, 2020

11 Aktivis Perempuan Raih Penghargaan Perempuan Pembela HAM 2020

| October 30, 2020 |

11 aktivis  perempuan raih penghargaan perempuan pembela Hak Asasi Manusia (PPHAM) 2020. Penghargaan ini diberikan oleh Komnas Perempuan dalam ulangtahun Komnas Perempuan ke- 22 pada 28 Oktober 2020. Para aktivis perempuan ini adalah mereka yang selama hidupnya banyak berjuang untuk perempuan, menjadi survivor, pendamping korban dan para aktivis yang memperjuangkan perdamaian dan keberagaman

Luviana- Konde.co

11 perempuan tersebut antaralain Estu Fanani (wafat, 2020), dr. Ratih Purwarini (Wafat, 2020), Rosniati (Wafat, 2020), Nurhidayah Arsyad (wafat, 2019), Ibu Den Upe Rambelayuk (Wafat di Toraja, Maret 2019), Lily Dorianty Purba (Wafat, 9 Februari 2019), Mama yusan yeblo (Wafat, 2019), Tapiomas Ihromi Simatupang (wafat, 2018), Sri Sulistyawaty (Wafat, 2018), Cut Risma Aini (Wafat, 2018), Christina Sumarmiaty (Wafat, 2019) 

Tribute ini adalah tribute untuk perempuan pembela HAM atau Women Human Right defenders/ WHRD yang sudah berpulang karena selama hidupnya sudah berjuang bagi perempuan untuk lepas dari kekerasan dan diskriminasi. Siapa sajakah mereka?

Estu Fanani

Estu Fanani adalah salah satu founder Konde.co. Ia banyak dikenal sebagai aktivis pembela hak perempuan sejak bergabung dengan LBH APIK  sejak tahun 2002-2010 hingga sebagai Direktur LBH APIK Jakarta. Setelah di LBH APIK, Estu kemudian bekerja sebagai Koordinator Cedaw Working Group Indonesia (CWGI) sejak tahun 2012-2016, menjadi peneliti di Semerlak Cerlang Nusa, di Kalyanamitra, dan juga di Pantau serta di Lembaga yang memperjuangkan hak para disable, YAPESDI. Terakhir, Estu juga menjadi ketua Koperasi untuk perempuan, Komunitas Tanah Baru. Estu Fanani berada di balik panjangnya advokasi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual dan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, 2 hal berat yang lama diperjuangkannya.

Ratih Purwani

Ratih Purwarini adalah salah satu dokter yang gugur di garis terdepan saat melawan Covid-19. Tidak hanya kiprahnya sebagai dokter yang berani menghadapi wabah global, namun juga dedikasinya bagi perempuan korban kekerasan. Ratih menjadi relawan di Unit Pengaduan untuk Rujukan (UPR) Komnas Perempuan sejak 2014 sampai 2017. Kemudian ia mendirikan Akara Perempuan, sebuah lembaga layanan bagi para perempuan korban kekerasan. 

Lily Dorianti Purba

Lily Dorianty Purba adalah konsultan gender yang banyak bekerja di badan pembangunan internasional di Indonesia untuk memberikan nasihat teknis tentang kesetaraan gender untuk Program dan Proyek Pembangunan Negara untuk berbagai isu. Dia telah bekerja selama lebih dari 25 tahun di lapangan di Indonesia. Latar belakang pekerjaannya meliputi kesetaraan gender, perempuan dan hak asasi manusia, pemberdayaan masyarakat dan advokasi. Lily lulusan Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Indonesia pada tahun 1985 dan gelar master dalam Pembangunan dan Gender di University of East Anglia, di Inggris (1999), yang membawanya bekerja sebagai konsultan gender organisasi donor internasional dan LSM nasional yang berbeda. Dia membantu banyak orang organisasi internasional dan nasional untuk menilai, memantau dan mengevaluasi mereka proyek pengembangan. 

Yusan Yeblo

Yusan Yeblo adalah aktivis perempuan yang berjuang untuk hak para perempuan di Papua.  Ia juga dikenal sebagai aktivis perdamaian. Sebelumnya Yusan Yeblo  pernah menjadi anggota MRP Papua Barat, Anggota Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), 2004-2007, Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia, 1998-2004, Anggota Forum Kerja Sama (Foker) LSM Irian Jaya, Anggota Pendiri Forum Kerja Sama Masyarakat Irian Jaya (Foreri), Wakil Ketua Solidaritas Perempuan Papua 2007-2018, Badan Penasihat YAHAMAK, Mantan Direktur Yayasan Kelompok Kerja Wanita (KKW) Irian Jaya, mantan Anggota Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa, khususnya mendampingi kaum perempuan yang bermasalah sejak 1994 dan mantan Koordinator Jaringan Kerja Sama Kesehatan Perempuan dan Anak Kawasan Indonesia Timur (JKPIT).

Yusan Yeblo meraih penghargaan sebagai perempuan pegiat perdamaian pada tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 

Sri Sulistyawati

Sri Sulistyawati adalah aktivis dan korban HAM yang pernah menjadi jurnalis. Bersama Sulami, Sujinah dan Harti teman-temannya sesama jurnalis perempuan di tahun 1950an mereka banyak menuliskan kondisi ekonomi dan sosial politik di Indonesia. Sri bekerja sebagai jurnalis sambil kuliah dan menjadi aktivis. Karir pertamanya dimulainya ketika ia bekerja di Harian Ekonomi Nasional dan Suluh Indonesia milik Partai Nasional Indonesia (PNI). Disanalah ia kemudian menjadi dekat dan banyak berbincang, melakukan wawancara dengan Presiden Sukarno.

Saat-saat berikutnya adalah merupakan saat yang buruk bagi Sri, karena ia kemudian dicari dan dipenjara tanpa alasan. Sri dipenjara di Bukit Duri selama 11,5 tahun hingga 25 April 1979 baru dilepaskan. Hari-hari setelah dalam penjara itulah hari-hari penuh dengan kekerasan, intimidasi dan diskriminasi yang tak pernah lepas dari hidupnya. Ia pernah mengalami pendarahan hebat karena disiksa. Hingga akhir hidupnya Sri tetap berjuang untuk kelompok minoritas korban HAM di Indonesia

Tapi Omas Ihromi

Tapi Omas adalah sosok perempuan antropolog Indonesia asal Pemantangsiantar yang lahir pada tanggal 02 April 1930. Dikutip dari Merdeka.com, walau dari latar belakang keluarga sederhana, Omas tetap bisa menuntut ilmu. Kesempatan mulai terbuka lebar ketika melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 1958. Pada saat itu, sebelumnya Omas juga berkesempatan mengajar di Taman Kanak Kanak, Sekolah Dasar serta Sekolah Menengah Pertama. Setelah kelulusan Omas dari Universitas Indonesia, Omas juga mendapat kesempatan belajar di Universitas Cornell dengan gelar M.A. Setelah kelulusan dari Universitas Cornell, Omas mengajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia serta mendapat gelar Doktor di bidang antropologi pada tahun 1978. Omas menjadi pakar hukum adat yang membela adat istiadat Indonesia. Disamping itu Omas juga aktif dalam membela kedudukan perempuan dalam masyarakat Indonesia dengan ikut berpartisipasi mendirikan pusat kajian perempuan di Universitas Indonesia pada tahun 1979.

Banyak pula karya karya tulis Omas yang menulis tentang adat istiadat dan peranan perempuan Indonesia, diantaranya Antropologi sosial dan budaya pada tahun 1963, peranan dan kedudukan perempuan Indonesia pada tahun 1983, dan lain lain

Rosniati, Nurhidayah, Den Upe, Cut Risma, Christina Sumarmiati

Sedangkan 4 perempuan lain peraih penghargaan adalah, Rosniati Nurhidayah Arsyad, Ibu Den Upe Rambelayuk, Cut Risma Aini, Christina Sumarmiaty adalah perempuan yang selama ini selalu gigih memperjuangkan perempuan di Indonesia. 

Rosniati adalah aktivis perempuan di Sulawesi Selatan yang banyak bekerja untuk akar rumput. Den Upe adalah aktivis keberagaman di Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, Cut Risma Aini adalah aktivis Solidaritas Perempuan Aceh, Christina Sumarmiati merupakan perempuan korban 65

Dengan segala semangat dan keterbatasan mereka berjuang untuk perempuan agar lepas dari kekerasan dan diskriminasi di Indonesia

Luviana, setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar ilmu komunikasi paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas



from KONDE - MEDIA FOR WOMEN AND MINORITY https://ift.tt/35PacTS Wanita Sehat

No comments:

Post a Comment

Back to Top